My Work (now and then)
Thursday, February 28th, 2008"Hi Mir, so how are you doin down there? Betah ga?"
Begitulah sepenggal pertanyaan dari mantan kolega di IOM Jogja dulu. Sekilas pertanyaan sederhana tersebut dapat dijawab dg sederhana pula. Tapi kemudian aku tergelitik untuk mencari jawaban pertanyaan tersebut dengan lebih mendalam. Mungkin bener kata teman2 dekatku, aku terlalu banyak beranalisa utk hal2 yg kecil. Yg kadang membuatku pusing sendiri. Hehehe….
Well, setelah aku berpikir, aku memang lebih betah kerja disini. Bidang2 project yang aku geluti disini juga lebih sinergis dengan ilmu perencanaan pembangunan yg aku tekuni. Kerjaan juga santai, hmm…mungkin malah terlalu santai (buktinya bisa nyambi chat dan ngeblog….wekeke)
Amat sangat kontras dengan kerjaan di IOM dulu, too much field work, selalu lembur mpe malem. Abis seharian panas capek di lapangan, balik kantor masih ngerjain banyak hal. Memang perbadaan intinya adalah, disana sangat operasional sifatnya, sedangkan disini lebih ke monitoring and evaluation.
But to almost everythin in life, there are always positives and negatives. Jujur, disini, aku merasa kurang berkembang. Aku merasa, peran bos juga amat sangat kurang berpengaruh terhadapku. Sedikit sekali yang bisa aku ‘curi’ dari bos. Maksudku, ilmu managerial proyek dan kepemimpinan tidak bisa aku dapat dari beliau. Beda banget ama bos ku di IOM, menurutku, dia sosok bos yang ideal. Dia selalu mengajariku hal2 yg bisa membuatku berkembang. Misalnya cara menghadapi masyarakat, resolusi konflik, dealing with difficult colleagues, proper communication among the team, cara menghadapi pihak donor, cara menuturkan masalah dg cara yg tepat, dan masih banyak lainnya. Sebenarnya, aku pelajari hal2 ini secara tidak langsung, dengan cara memperhatikan cara2 dia memanage dan menangani proyek dan kasus2 yang terjadi di kantor dan lapangan. Tapi seringkali pula dia sengaja mengajariku, memberiku tugas2 dan tanggung jawab yg cukup menantang, dan dia selalu menuntunku utk bisa memikulnya.
Maybe because I was her right-hand person (and best friend), dan kita berada di garis depan proyek (kalo kita salah, seluruh operasi akan salah kaprah), so she had high expectations of me. Often times, I felt so much pressure, sampe’ aku sempet drop, sakit agak parah 2 kali. Bahkan aku sempet, sekali, nangis di pelukan bos ketika suatu ketika semua terasa begitu berat dan menyesakkan, merasa udah ga bisa lagi memikulnya (may look unprofessional, haha, but she was also my best friend). Ama dia komunikasi sangat terbuka. Tapi, semua masalah memang selalu ada pemecahannya. Harus dihadapi, dan jangan ditinggal lari. Aku paling ga suka membiarkan masalah sehingga masalah itu selesai (baca: hilang) dengan sendirinya. Itu sama saja dengan pengecut, pitik…alias chicken!
Catat: WHAT DOESNT KILL YOU WILL ONLY MAKE YOU STRONGER. I’m grateful for every pressure that I can go through. Intrik2 dan cerita2 lapangan selalu membuatku tersenyum, dan bahkan tertawa. Masyarakat desa memang kadang aneh2. Hehehe. Apalagi kebersamaan dengan anak2 volunteer assessment, hmm….mereka bener2 anak muda yg penuh semangat! I miss them all… Disana kebersamaan tim begitu kental, tidak seperti disini.
Well, intinya sih, dimana saja kita bekerja, pasti ada plus minusnya. Jalani aja dengan senang dan ikhlas, anggap saja itu sudah rezeki karena pasti ada banyak hal yang bisa kamu dapati, dan pasti akan menjadi sesuatu yg indah di kemudian hari
Mungkin apa yg aku tulis disini sepertinya di IOM dulu lebih ‘menyenangkan’, but I really needed a change. So I moved. Hidup adalah pilihan, harus konsisten dengan apa yang sudah dipilih, the good and the bad, tough or easy, harus dihadapi semua. (halah) ^_^
- Good leaders dont manipulate you, they built you up. Providing an opportunity for others to improve and succeed -
